Minggu, 09 Januari 2011

Curhat 2

Rasanya senang sekali jika hasil karay kita bisa dipublikasikan dan dibaca banyak orang. Seperti karya imajinasi dari J.K Rowling ataupun karya2 dari para ilmuwan besar seperti Habermas, Foucult, Karl Marx, dll. Apalagi jika hasil karya yang notabene berasal dari hasil thesis mereka. Hal itu berarti mereka benar-benar berjalan secara semestinya di sebuah tempat yang bernama institusi pendidikan, berjalan sesuai dengan landasan filosofis, makna normatif dan makna deskriptifnya.

Dan sekarang, aku sedang berjalan dalam labirin institusi pendidikan itu. Dalam ranah S1, labirin yang aku lalui sudah hampir mencapai ujung. Aku ingin sekali keluar dari labirin itu dengan tidak sia-sia. setidak-tidaknya aku bisa memberikan dan membagikan hasil karyaku kepada mereka yang di luar labirin yang sedang menanti kami semua yang berada di dalam labirin. Kono, orang-orang yang keluar dari labirin itu adalah orang-orang yang bisa membebaskan mereka dari belenggu-belenggu yang membuat manusia terpasung, yang mampu mengangkat harkat martabat mereka, yang bisa menjadikan mereka manusia seutuhnya.Wooowww, mulia sekali orang-orang di dalam labirin itu. Tapi, apakah kenyataannya demikian? Oh, ternyata tidak! Setelah keluar dari labirin itu, orang2 itu pun sama saj seperti manusia-manusia lainnya, sama-sama terbelenggu oleh ketidaktahuan. dan ketidaktahuan itu ternyata sangat membuat nyaman.

Sejujurnya aku ingin sekali hasil mahakarya ku mendapatkan gelar bachelor degree itu bisa bermanfaat, atau setidaknya bisa dipublikasikan dan dibaca oleh banyak orang. Tapi, ternyata konsekuensinya adalah aku harus berkelok-kelok terlebih dahulu di dalam labirin itu. Padahal, tingkal selangkah lagi aku bisa keluar dari labirin itu.

Karena sudah saatnyalah aku memberikan kontribusiku kepda universe and society sesuai dengan kapasitasku dan pengetahuan yang aku miliki.

Sabtu, 08 Januari 2011

Work Hard, Play Hard

Tinggal di apartemen di kawasan elite ibukota, dekat dengan pusat bisnis, pusat hiburan. Abis seharian ngantor, langsung neyetir mobil ke apartemen. terus mandi, touch up muka, badan, lalu berubah jadi fashionista, pokonya penampilan harus terlihat sangat menarik sekaligus menawan. Abis itu, segeralah meluncur ke tempat kongkow buat dugem seharian atau nonton midnight. pokoknya harus bisa merealisasikan work hard, play hard!
kayanya enak banget yah hidup ini kalo diisi dengan bermain, seneng-seneng mulu. Apalagi kalo kita udah kerja keras selama satu minggu di kantor. Perjuangan dan kesusahan kita selama satu minggu itu harus dibayar setiap weekend atao kalo bisa sih maunya pasti setiap abis ngantor. "Gw udah kerja keras, sekarang saatnya gw seneng2 dong!"

Dan untungnya di zaman sekarang, banyak banget fasilitas-fasilitas 'publik' yang menawarkan kesenangan itu. Asalkan ngeluarin uang untuk fasilitas-fasilitas 'publik' itu. Ya iyalah, hari gini gitu mana ada kesenangan yang gratis! Well, tapi gak masalah dong. Toh, hiburan atau kebutuhan akan kesenangan buat kaum urban (dan sekarang hampir ke seluruh masyarakat) bukan lagi kebutuhan tersier, sekarang udah jadi kebutuhan primer! Buktinya pasti setiap bulan, minimal 20% dari pendapatan itu dialokasikan untuk agenda refreshing/jalan2/liburan.

Pernah terpikir gak sih, kenapa pada zaman sekarang ini kebutuhan akan refreshing/jalan2/liburan atau senang-senang itu begitu penting? Sepengalaman gw, waktu gw kecil, kebutuhan akan liburan itu bukanlah sesuatu yang penting. Apakah emang karena sekarang hidup semakin kompleks sehingga manusia dipusingkan dengan berbagai macam kebutuhan (atau jangan-jangan hanya keinginan yanng tidak sesuai dengan kebutuhan)? Ya, keinginan yang seolah-olah adalah kebutuhan, seperti yang banyak ditawarkan oleh iklan-iklan di berbagai media massa.